Berita Jumat, 29 Mei 2026 10:24

Dorong Transformasi Pembelajaran Kursus di NTT Lewat Pengimbasan Project Based Learning

Lisvi
166x dilihat
Dorong Transformasi Pembelajaran Kursus di NTT Lewat Pengimbasan Project Based Learning

Kupang, Kemendikdasmen – Sebagai tindak lanjut dari kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Project Based Learning (PjBL) yang dilaksanakan di Bekasi, Jawa Barat tanggal 7–9 Mei 2026, LKP Salon Christie bersama Forum Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan (FPLKP) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Diseminasi PjBL bagi LKP se-NTT.

Hadir sebagai narasumber, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Forum Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan (DPD FPLKP) Provinsi NTT, Mery R Ch Mesah, yang sebelumnya telah mengikuti Bimtek PjBL yang diselenggarakan oleh Direktorat Kursus dan Pelatihan (Ditsuslat) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada tanggal 7 s.d 9 Mei 2026 di Bekasi.

Dalam paparannya, ia menekankan bahwa penerapan model Project Based Learning merupakan langkah nyata untuk membawa pembelajaran di LKP lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.

”Project Based Learning bukan sekadar model pembelajaran biasa, tetapi merupakan implementasi nyata dari konsep Deep Learning yang menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran,” ungkap Mery di hadapan 30 peserta dari 17 Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) yang hadir.

Mery juga menambahkan, dalam pendekatan ini, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi belajar melalui pengalaman nyata, penyelesaian masalah, dan penciptaan produk yang bernilai.

Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, para peserta dibimbing untuk memahami manfaat PjBL serta praktik penerapannya di LKP, khususnya bagi pelaksana program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) dan Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK). Materi yang diberikan meliputi penyusunan perangkat pembelajaran berbasis proyek seperti silabus PjBL, RPP berbasis proyek, rubrik penilaian, hingga logbook pembelajaran peserta.

Mery menjelaskan bahwa urgensi penerapan PjBL di LKP sangat besar karena model ini: 1) Berbasis konteks dan masalah nyata; 2) Dikembangkan oleh peserta didik dengan fasilitasi instruktur; 3) Menghasilkan produk yang mencerminkan kreativitas individu; 4) Memberikan pengalaman dunia kerja secara nyata kepada peserta; 5) Mendorong keterlibatan aktif peserta dalam setiap tahap pembelajaran, serta 6) Menghasilkan manfaat yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan tujuan proyek.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan, terutama saat sesi micro teaching dan praktik penyusunan perangkat PjBL. Salah satu peserta, Eka Humneno, mengaku sangat terbantu dengan materi yang diberikan.

Ia menyampaikan bahwa selama ini pembelajaran di lembaga kursus masih banyak dilakukan secara konvensional dan berbasis instruksi sehingga peserta didik cenderung pasif. Melalui kegiatan ini, para instruktur mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, kreatif, dan berpusat pada peserta.


“Pada saat kegiatan sosialisasi ini kami diajarkan bagaimana menyusun perangkat PjBL dan micro teaching yang sangat menarik. Membuat kami bersemangat untuk segera menerapkan PjBL di LKP kami,” tutur Eka.

Semangat yang sama juga disampaikan oleh Rhany Koamesah yang menyatakan kesiapan lembaganya untuk menerapkan PjBL dalam program PKW tahun ini. Bahkan, Rhany berhasil menjadi peserta terbaik dalam kegiatan sosialisasi dan penerapan PjBL bagi LKP di NTT.

”Peserta didik kursus pasti akan belajar dengan lebih semangat kalau kami menerapkan PjBL ini,” ujarnya penuh antusias.

Dalam keterangan tertulisnya, Direktur Kursus dan Pelatihan Kemendikdasmen, Yaya Sutarya menyampaikan apresiasinya atas praktik baik pengimbasan PjBL yang telah dilakukan oleh FPLKP Provinsi NTT. ”Kami mendorong, kiranya diseminasi PjBL dapat diimbaskan oleh FPLKP Provinsi lainnya kepada LKP di wilayahnya sehingga semakin banyak lembaga yang mampu menerapkan model pembelajaran serupa,”

”Setiap tahun Direktorat Kursus dan Pelatihan terus melakukan berbagai perubahan dan penguatan program. Salah satunya melalui penerapan pembelajaran berbasis proyek yang sebelumnya telah diterapkan di beberapa sekolah dan lembaga. perubahan tersebut perlu terus dikembangkan agar mampu menyesuaikan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan zaman,” sambung Yaya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari transformasi pembelajaran di LKP seluruh NTT menuju sistem pendidikan keterampilan yang lebih inovatif, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan industri serta dunia kerja. Melalui kolaborasi antar LKP dan semangat berbagi praktik baik, penerapan Project Based Learning diyakini mampu menciptakan lulusan yang lebih kompeten, kreatif, dan siap bersaing di era modern.

Bagikan:
Asisten Virtual

Halo! Ada yang bisa dibantu?

Isi data diri singkat untuk memulai percakapan.

Konsultasi Daring
Layanan Informasi
Chat dengan Bot